HUKUM MEROKOK

Selasa, 16 Ramadlan 1432 – masih di pagi yang cerah

Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin. (Peringatan Pemerintah)

Suatu kali aku baca Annida edisi lawas (aku lupa edisi berapa). Ada suatu rubrik yang menampilkan blog seseorang dengan artikel sepanjang dua halaman. Waktu itu kebetulan artikel yang ditampilkan bercerita tentang penulisnya yang mantan perokok berat. Dalam artikel itu diceritakan bahwa penulisnya (aku lupa namanya) bisa berhenti merokok setelah menderita penyakit tifus. Penyakit yang (menurut dia) nggak ada kaitannya dengan rokok ini begitu melemahkan, sehingga selama sakit dia tidak pernah merokok. Hebatnya, setelah sembuh dia justru merasakan bahwa merokok itu tidak enak.

CANDU DALAM ROKOK

Si pemilik blog menyatakan bahwa itu adalah bukti bahwa rokok tidak mengandung nikotin. Tapi setahuku zat candu dalam rokok adalah nikotin. Rasa tidak enak yang dia rasakan saat hendak mulai merokok lagi tidak menjadi bukti ketiadaan nikotin. Tidak menutup kemungkinan hal itu akibat tubuhnya telah terformat ulang, sehingga menjadi seperti sebelum kecanduan. Kemungkinan, kalau dia tidak menghiraukan rasa tidak enak itu, dia akan menjadi perokok lagi.

SI KECIL YANG MEMATIKAN

Peringatan pemerintah yang wajib dicantumkan pada setiap bungkus rokok memang benar. Salah satu racun rokok terdapat pada asapnya; tar, yang bersifat karsinogenik. Tapi sebenarnya yang mematikan pada rokok bukan zat-zat yang dikandungnya semata. Tapi sifatnya yang candu itu juga sangat mematikan. Karena candu inilah maka hanya perokok iseng atau pemula saja yang tahu bahwa rokok itu tidak enak. Sebaliknya, para perokok profesional justru merasa tidak enak kalau seharian tidak merokok.

ADA EGO DALAM KEBODOHAN

Parahnya, selain sulit menghentikan kebiasaan buruk yang dapat menggerogoti dirinya, para perokok juga egois. Dan kejam. Dia seolah ingin orang-orang di sekitarnya turut menderita karena rokok. Bahkan yang baru saja bertemu sekalipun.

Kita tentu sudah tak asing lagi dengan istilah perokok pasif.  Secara fisik mereka tidak merokok, namun mereka turut terkena resiko akibat turut menghisap asap rokok. Bahkan konon menjadi perokok pasif lebih beresiko terserang penyakit (akibat rokok) daripada perokok aktif.

KETIKA RACUN ITU HILANG

Bisakah?

Katanya sih bisa…

Aku pernah membaca artikel tentang rokok herbal. Ada-ada saja J :P. Konon, dalam rokok herbal ini kandungan racun yang biasa ada pada rokok sudah diminimalisir. Bahan-bahan itu (konon) telah diganti dengan zat-zat yang bermanfaat bagi tubuh.

Salahkah kalau aku meragukan pernyataan itu? Entahlah…. Yang jelas aku ragu. Padanannya, kita tahu bahwa bunga rosella itu baik untuk kesehatan. Tapi apakah kita bisa merasakan manfaatnya dengan cara menghisap asap dari pembakaran kelopak bunga itu?

Setahuku, dalam ilmu tentang unsur (kimia ya…?), tumbuhan termasuk hidrokarbon. Dan setiap pembakaran hidrokarbon selalu menghasilkan zat sisa berupa karbondioksida (CO2) dan sedikit karbon monoksida (CO). Lalu, bisakah kita membakar sesuatu yang termasuk hidrokarbon tanpa menghasilkan zat sisa itu? Setahuku tidak.

TRUS GIMANA HUKUMNYA?

Sebelumnya, apa manfaat merokok bagi pelaku dan lingkungannya? Tidak ada.

Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa merokok adalah sebuah pemborosan dengan mempertaruhkan kesehatan pelaku dan orang-orang di sekitarnya.

Kalau begitu, untuk apa kita mempertahankan kehalalan rokok?

Makruh?

Seringan itukah?

Haram?

Jujur, seharusnya IYA!

Lalu bagaimana dengan perusahaan-perusahaan rokok yang telah turut andil mengurangi angka pengangguran di negeri ini?

Ah, soal itu ya?

Aku ingin sekedar bertanya, kalau saja hal itu terjadi pada bisnis babi, dapatkah kita katakan bahwa babi halal? Atau setidaknya makruh?

Tapi ini khan beda. Soal babi sudah jelas disebutkan dalam Al-Qur’an, sedangkan rokok?

Secara tertulis memang tidak ada sebutan rokok dalam Al-Qur’an. Tapi tidak cukupkah ayat tentang pemubaziran (Q.S. Al-Isra` [17]: 26-27) menjadi landasan hukum untuk pengharamannya? Dan bukankah yang Allah halalkan adalah hal-hal yang baik saja? (Q.S. Al-Maidah [5]: 4)

Dan sebagai muslim, bukankah standar penilaian kita adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah?

(udah jam 01.46 nih…)

Surakarta, Rabu, 17 Ramadhan 1432 / 17 Agustus 2011

 

Kalau belum puas dengan keterangan di atas, mungkin seorang teman yang menulis makalah berjudul HUKUM MEROKOK bisa menjelaskan… 😛

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s