Symbols Attack

عن عمران بن حطان أن عائشة ، رضي الله عنها ، حدثته أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يكن يترك في بيته شيئا فيه تصاليب إلا نقضه .

خ: ك: اللباس، ب: نقض الصور ؛ د: ك: اللباس، ب: في الصليب في الثوب

Muslimin di Indonesia ini adalah mayoritas. Menurut hitungan, keadaan ini bisa membuat kita cukup tak terkalahkan. Hanya saja pada tataran riil kita justru sering terseok, terpojok, bahkan tergencet. Syi’ar Islam hampir tidak tampak dalam kehidupan sehari-hari.

Lain ceritanya dengan agama-agama lain yang “syi’ar”nya bertebaran di mana-mana. Bahkan tak jarang “syi’ar” mereka turut menemani keseharian kita, tanpa kita sadari. Hal ini mengesankan bahwa mereka lebih “hidup” meski mereka minoritas.

Mari kita garis bawahi ini: Muslimin sering tidak menyadari betapa banyak “syi’ar” kaum kuffar yang menemani mereka.

Pertanyaannya adalah: mengapa demikian? Dan bagaimana itu terjadi?

Pertama, hal ini terjadi karena muslimin (terutama kaum awamnya) kurang menaruh perhatian kepada hal-hal yang disangka tidak ada sangkut pautnya dengan agama mereka, dalam hal ini terhadap simbol-simbol kaum kuffar.

Sejatinya, simbol-simbol kaum kuffar tidak ada sangkut pautnya, apalagi berpengaruh terhadap Islam. Namun itu kalau simbol-simbol itu berada di lingkungan pemiliknya, bukan di tengah-tengah muslimin. Keadaannya menjadi berbeda ketika simbol-simbol itu telah menyusup dalam kehidupan umat Islam. Memang mungkin tidak ada pengaruh langsung, namun setidaknya kalau itu dibiarkan, umat ini akan terbiasa dengan simbol-simbol itu dan menganggapnya sebagai “sesuatu yang memang seharusnya”. Kalau hal ini terjadi, cepat atau lambat kita akan terpengaruh oleh pesan-pesan yang diusung oleh simbol-simbol itu.

Kedua, bagaiman itu terjadi?

Penyebaran simbol kaum kuffar itu telah berlangsung lama dan masih akan terus berlanjut, bagaimanapun keadaan kita. Entah kita menyadari atau tidak, peduli atau tidak, bahkan menentang atau tidak. Yang jelas, sikap apapun yang kita ambil, itulah yang menentukan dampak penyebaran simbol-simbol itu pada diri kita.

Tentu sebagai muslim, sikap yang harus kita ambil adalah menghindar dan menjauhkan simbol-simbol kaum kuffar dari diri dan lingkungan kita.

Ummul mukminin ‘Aisyah binti Abu Bakr radliyallahu ‘anhuma menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membiarkan sebentuk salib pun berada dalam rumah beliau. Setiap kali ada bentuk salib yang luput sehingga masuk ke dalam rumah, beliau selalu merusaknya.

Ulama menerangkan bahwa makna (tashalib) itu mutlak; baik timbul atau tidak (hanya dua dimensi), entah berada di gorden, tempat tidur, pakaian, maupun keping uang. Selanjutnya, kata (tashalib) juga di-istinbat-kan menjadi segala yang mengandung unsur peribadatan kepada selain Allah; baik berupa makhluk hidup maupun benda mati.

Oleh karena itu, kita yang hidup pada zaman ini juga perlu waspada terhadap segala hal yang mungkin tidak sehat bagi aqidah kita. Bentuk salib, patung Yesus, bunda Maria, dewi Venus, dewa Horus (emprit gepeng lambang negara kita), dewa Apollo, dewa Brahma, atau dewa-dewa yang lain memang sudah jelas bagi kita. Namun, tak jarang unsur peribadatan kepada selain Allah (kemusyrikan) itu terselip dalam hal-hal remeh yang sudah lumrah ada pada keseharian kita [1].

Suatu simbol merupakan identitas pemakainya. Karenanya, kita perlu mencermati dan mewaspadai pola-pola rumit pada kelambu, pakaian, dan perkakas kita; logo-logo organisasi, lembaga, dan perusahaan di sekitar kita; begitu pula simbol-simbol yang nangkring di tempat-tempat umum. Semua itu tak lain demi kesehatan aqidah kita dan lingkungan sekitar kita. Selain itu, ketidak acuhan kita tanpa kita sadari turut membantu penyebaran simbol-simbol itu. Lebih dari itu, semua kita lakukan dalam rangka menganut sikap junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau menghindari dan bahkan merusakkan “syi’ar-syi’ar” kaum kuffar…, lalu bagaimana dengan kita?!!

Ska, Fri, Jan 27th 2012

03 Shovar 1433

Referensi:

Shahihul Bukhari

Sunan Abu Dawud

Fathul Bari

Melacak Jejak Freemasonry di Indinesia


[1] Agaknya kita juga perlu menghindari bentuk bebintang yang digambarkan dengan bentuk pentakel, karena sejatinya kaum kabalis menggunakan pentakel antara lain sebagai lambang mendes…. (Penjelasan selengkapnya tentang simbol bisa dicari dalam banyak referensi… J).

Iklan

One response to “Symbols Attack

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s